enjoy with this BLOG kunjungi juga! http://www.wisatahati.net/?id=mridwanlampung
Rabu, 20 April 2011
Jumat, 01 April 2011
Makna Sebuah Titik

Sebuah dan tentang titik. Ya, kalimat pertama tulisan ini pada akhirnya diakhiri dengan titik dan seterusnya hingga sampailah ia pada kalimat terakhir. Sebuah titik kadang merangkai sebuah pengertian. Kadang pula merangkai sebuah kesadaran, bahwa ia harus berhenti; pada sesuatu, untuk sesuatu, atau bahkan hanya untuk sesuatu saat. Ia bukan sekedar hasil dari sentuhan tinta dengan kertasnya, tapi karena ia ada, dan sudah seharusnya ada, kita bisa mengambil nafas untuk melanjutkan mengeja, membaca dan meresapi hingga seterusnya dan berjumpa lagi dengan titik. Kadang kali ia dibuat begitu banyak dan berjajar. Mungkin isyarat untuk sejenak jeda lebih lama, bahwa ada seterusnya yang, tidak bisa di tuliskan mungkin, hingga perlu berjajar dan beramai-ramai untuk benar-benar mengetahui ada makna apa dibalik hidupnya kata-kata sebelumnya.
Titik, dan dari sanalah konon semuanya bermula. Ia berpegangan rapat-rapat, hingga bisa dibentuk huruf, kata dan kata-kata. Kata dan kata-kata berhimpun dan jadilah sebuah kalimat. Dari sana muncul makna-makna, kadang sederhana, tapi kadang mendalam hingga berasa begitu nikmat meresapinya. Dan pada akhirnya kalimatpun harus juga diakhiri dengan titik.
Titik bukan koma, yang merupakan isyarat untuk berhenti sejenak, dan titik tidak bisa menjadi koma. Begitu pula sebaliknya, koma tidak bisa menjadi titik karena itu bisa mengacaukan. Mengacaukan intonasi, mengacaukan susunan, dan yang lebih parah mengacaukan makna.
Sebuah titik tidak selamanya identik dengan berhenti. Justru dari sanalah kadang sebuah perjalanan bermula; mengakhiri sebuah makna, untuk kemudian melanjutkan dengan makna yang lebih baru, lebih dalam semoga, dan jangan sampai ia hanya jadi penyimbolan untuk berakhirnya sesuatu untuk sekedar sesuatu. Kalau hanya ini yang ada, bisa-bisa prosa yang penuh dengan titik dan titik-titik ini menjadi hambar dan tiada bernilai.
Dalam sebuah prosa kehidupan yang dipenuhi dengan titik, dengan inilah prosa itu bisa terangkai dan pada akhirnya bisa dialurkan. Titik menyambung untuk kemudian menyatukan, dan bahwa saat sesuatu harus terhenti, seringkali kemudian ia tersambung lagi, yang karenanya ia ada, alur itu menjadi indah. Kadang tak terduga, tidak direncanakan, muncul tiba-tiba hingga menjadi indah pada waktunya. Disinilah, kata orang, titik (kalau tahu ada titik tentunya) merubah yang tak menyenangkan menjadi menyenangkan; mengubah yang tak indah menjadi indah; dan bisa menjadikan yang hitam jadi putih sekalipun.
Titik bukanlah bintang-bintang yang berserak dilangit, yang meskipun berwujud titik dengan mata kita melihat; bercahaya dan beraneka warna, ia hanya bisa dinikmai keindahannya. Tak bisa kita mengatur warna bintang, karena ia ada memang begitulah adanya. Tapi dengan titik, kita bisa mewarnanya sesuka hati kita, entah hijau, putih, merah, bahkan hitam, asal ada pena tentunya.
Titik tetap saja titik. Kecil, dan seringkali tidak dianggap ada saat terlalu asik menikmati alur. Diumpat saat ia dianggap mengakhiri sebuah akhir sedih. Dihina saat dianggap hanya mampu mengadili tapi tak mampu member solusi. Tapi kadang ia dipuja, karena mambuat sempurna sebuah akhir bahagia. Sederhana, dalam dan memberi makna, hingga pada akhirnya, seperti yang telah dijanjikan diawal, tulisan kecil ini pun harus diakhiri dengan titik
Jumat, 04 Maret 2011
Menambah hewan peliharaan "hamster" di blog
“Hewan lagi, hewan lagi!!!” mungkin ada yang berakata seperti itu.
Ya.., tapi mau bagaimana lagi. Karena hampir setiap orang suka dengan binatang, termasuk juga saya (tapi gak banyak-banyak). Jadi nggak ada habisnya deh, kalau ngomongin tentang binatang. Kali ini saya mau beri info bagaimana cara memiliki hewan peliharaan di blog kita.
Sebenarnya "mungkin" widget ini bukan untuk tujuan memiliki hewan peliharaan. tetapi, hanya sebuah widget unik dari aBowman. Karena selain hewan juga ada gambar yang lainnya. Tapi kalau kamu tertarik silahkan saja copy kode di bawah dan letakkan di blog kamu. Oh, ya hewan ini juga bisa di beri makan loh. klik saja area di mana kamu mau taruh makanannya.
1. Copy codenya
2. Masuk ke blog kamu
3. Tata letak
4. Tambah gatget(HTML/JavaScript)
Kode untuk hewan-hewannya :
cari di sini aja ya !
http://animefacebookcommunity.blogspot.com/2009/11/cara-memilikimemasang-hewan-peliharaan.html
5. SELESAI
segera lihat blog kamu.
(mridwan04032011)
Ya.., tapi mau bagaimana lagi. Karena hampir setiap orang suka dengan binatang, termasuk juga saya (tapi gak banyak-banyak). Jadi nggak ada habisnya deh, kalau ngomongin tentang binatang. Kali ini saya mau beri info bagaimana cara memiliki hewan peliharaan di blog kita.
Sebenarnya "mungkin" widget ini bukan untuk tujuan memiliki hewan peliharaan. tetapi, hanya sebuah widget unik dari aBowman. Karena selain hewan juga ada gambar yang lainnya. Tapi kalau kamu tertarik silahkan saja copy kode di bawah dan letakkan di blog kamu. Oh, ya hewan ini juga bisa di beri makan loh. klik saja area di mana kamu mau taruh makanannya.
1. Copy codenya
2. Masuk ke blog kamu
3. Tata letak
4. Tambah gatget(HTML/JavaScript)
Kode untuk hewan-hewannya :
cari di sini aja ya !
http://animefacebookcommunity.blogspot.com/2009/11/cara-memilikimemasang-hewan-peliharaan.html
5. SELESAI
segera lihat blog kamu.
(mridwan04032011)
Selasa, 15 Februari 2011
"...dan bintang pun bernyanyi."
“...dan bintang pun bernyanyi.”
“Aila nggak papa kok bang,” balasnya cepat atas pertanyaan kakaknya. Seger Aila keluar kamar. Tampak dari jendela−dia dengan scooter putih dan helm hitamnya segera meninggalkan rumah.
Kakaknya tamapak bingung dengan perubahan Aila dua hari belakangan ini. Entah mengapa dalam dua hari ini−Aila sedikit murung dan yang pasti tak seceria sebelumnya. Aila memang termasuk anak yang supel dan ceria. Sejak lulus SMA satu setengah tahun yang lalu Aila dan kakaknya hanya tinggal berdua. Ayah dan ibu mereka tampak sibuk dengan karirnya. Ya, dengan alasan untuk kebahagiaan anak-anaknya. Ditemani pak Ali dan si Mbak yang membantu mereka di rumah sehari-hari.
Seperti biasa, pagi itu kakaknya menunggu di depan rumah untuk lari pagi bersama. Rutinitas yang jarang terlewat bagi mereka berdua untuk mengelilingi perumahan dan taman sederhana di sekitar rumah mereka.
“berhenti dulu bang, Aila capek.” Seraya mengelap keringat yang ada di dahi dan lehernya Aila duduk di bawah pohon yang ta seberapa besar itu. Sinar matahari menembus dedaunan pohon itu.
“Bang indra bawa minum gak? Aku haus bang.” Ya, tampak kehausannya ketika meneguk setengah air dari botol kecil itu.
“Lanjut yuk!” ajak kakaknya.
Sekira satu jam lebih mereka berlari dan kembali ke rumah. Indra segera menuju belakang rumah dan duduk tepat di pinggir kolam renang. Si Mbak langsung mengantarkan roti dan dua gelas air. Air putih dan air susu.
“Kok disini Mbak, tapi ya udah deh gak papa. Makasih ya Mbak.”
***
“Hey, bang!” Sapa Aila yang sudah rapi.
“Mau kemana? Sini sarapan dulu.” Buru-buru amat.
“Iya bang, ada kuliah pagi nih. Sarapan di kampus aja.” Berlari Aila keluar.
“Ya udah hati-hati.! HEY ! kunci motornya ketinggalan tuh di meja makan.”
“Hehehe, makasih bang. Abang nggak ada kuliah ?” Tanya Aila balik.
“Hari ini kosong. Nanti abang mau beli teropong baru, yang lama udah nggak bagus. Kamu mau titip nggak?” Beranjak Indra dari duduknya.
“emmmm....titip bintang ya bang. Hehehe. Aila berangkat.” Canda dan tawa mengantarkan Aila ke kampus.
“Dasar! Mana ada jualan bintang.” Celetuknya dengan senyum. Mahasiswa semester tujuh ini senang dengan perubahan adiknya. Ia sendiri memang sudah tidak sering ke kampus karena dalam seminggu hanya dua kali kuliah. Tapi, masih tersimpa tanya kenapa adiknya seperti itu. Dugaan demi dugaan ada di otaknya.
***
Memang keseharian Aila tampak ceria. Tapi siapa yang tau denga isi hatinya. Wajah bisa saja dibuat-buat agar menutupi apa yang tersirat di hati. Dibuat senang, padahal sedih. Pun dengan sebaliknya. Teringat dengan sebuah ungkapan “Tatap matanya, maka kau akan mengetahui isi hatinya”. Hah, ungkapan itu lagi. Ada juga yang mengatakan bahwa mata adalah jendela hati. Hati punya jendela ? ya, itu ungkapan. Harus dicerna dengan otak yang tenang untuk dapat mengartikannya. Tidak bisa kita memaknainya hanya dengan logika.
Indra sebagai kakak merasa sangat bertanggung jawab dengan apa yang terjadi dan akan terjadi pada adiknya. Maka dari itu−dia sangat memperhatikan adiknya. Bukan bermaksud untuk mengisolir terlebih membatasi pergaulan dan kreativitas adiknya. Tapi ya sewajarnya perlindungan kakak terhadap adiknya.
***
Malam itu sengaja Indra ingin menanyakan apa yang terjadi pada Aila belakangan ini. Dilihatnya Aila tengah duduk di teras atas dengan headset di telinganya dan gitar ditangan. Tempat favorit Aila selama ini.
“disini juga dek?” dengan membawa teropongnya−Indra mengejutkan Aila.
“Abang ngapain disini? Tumben gak keluar?” tanya Aila kembali.
“Mau liat bintang pake teropong baru.” Tawa mulai menghiasi kakak-adik itu.
Memulai pembicaraan serius, Indra mulai bertanya pada Aila terkait sikapnya belakangan ini yang kadang murung kadang senang. Itu membuat gelisah kakaknya. Aila tampak mulai mengalihkan pembicaraan dan menutupi dengan wajah cerianya. Tapi, ikatan seorang kakak tak bisa dibohongi. Indra yakin ada sesuatu yang terjadi. Kembali Indra menanyakan.
“Udah si dek, cerita aja!”
Aila mulai menghentikan petikan gitarnya. Tampak wajah yang serius mulai muncul. Mulailah Aila bercerita. Ternyata selama ini dia menyukai seorang pria yang ada di kampusnya.
“Udah lama sih bang sukanya.”
Sekarang yang menjadi permasalahan adalah si pria itu tidak mengetahui kalau Aila menyukainya.
“Kenapa nggak ngomong aja?”
“yeeee,,,,ntar malah dikira aku nembak duluan.” Sahut Aila.
“ngatain suka kan buka berarti nembak duluan. Ya kamu nggak harus nyatain langsung ke cowok itu laa. Lewat teman kamu kan bisa.” Wejangan si kakak tampaknya mulai membuka pikiran Aila.
Kembali. Permasalahan muncul lagi. Teman Aila pun juga tak mengetahui kalau dia lagi suka dengan cowok. Ya, seorang yang kita anggap dia ceria dalam kesehariannya ternyata ada suatu yang “unik”. Tak berani curhat tentang perasaannya.
“Kalau si cowok tau kalau kamu suka sama dia kan, siapa tau aja dia juga suka sama kamu. Ya gak?” tambah Indra.
“Terus bang?” Aila mulai hanyut dengan kata-kata Indra. Tapi, tetap saja tangannya memainkan gitar dan bersenandung.
“ya gitu. Daripada kamu sakit nanti kalau ngeliat cowok itu sama cewek lain. Nah lo...”Tegas Indra.
“Iya sih bang, seperti gak nerima aja kalau dia deket cewek lain. Padahal aku bukan siapa-siapanya. hehehe” Balas Aila.
Sejenak terhenti pembicaraan kedua saudara kandung tersebut. Indra yang mulai memainkan teropong bintangnya. Aila asik dengan gitarnya. Sesekali Indra melirik adiknya yang seperti memikirkan sesuatu.
“ehem...ehem....” Indra memecah hening itu.
“Apa sih bang? Ngagetin aja.”
“Jadi?” Tanya Indra.
“Apanya bang?” Tanya Aila polos.
“Yang tadi. Masa udah lupa.” Indra mengingatkan.
“Sip dah bang. Dipertimbangkan sarannya.” Tawa keduanya meramaikan malam.
“yeee,,, pake dipertimbangkan segala. Kaya siapa aja.” Canda Indra.
Keduanya melanjutkan canda.
“liat apa bang?” Tanya Aila yang sedang memainkan gitarnya.
“Tuh bintangnya bagus banget.” Balas Indra serius.
“Bagus suaraku lah bang.” Kembali Aila membuka canda.
“Bagus bintangnya dong...” balas Indra.
“Aku bisa nyani, bintang?” pertanyaan canda Aila keluar.
“Iya dehhhh. Apa sih yang nggak” Abangnya mengalah.
Memang kita tak bisa lepas dari hukum alam. Manusia makhluk sosial yang butuh saran dari orang lain. Kakaknya pun bisa jadi solusi “curhat” Aila. Aila sekarang lebih terbuka masalah hati. Tapi, ya seperti biasa. Senyum menghiasi hari-hari Aila entah dengan hati yang senang atau sedih.
Keduanya pun melanjutkan malam. Indra yang asik melihat bintang dengan teropong barunya dan dihibur Aila yang bernyanyi dengan petikan gitarnya. Ya, “...dan bintang pun bernyanyi.”
Note:
Simple short story yang dibuat atas inspirasi beberapa hari ini. Hahaha
“...’ve a nice day.”
copyright : mohammadridwan <150211>
Senin, 07 Februari 2011
Minggu, 16 Januari 2011
Rabu, 12 Januari 2011
‘Injury Time’ bukan Perpanjangan Waktu

‘Injury Time’ bukan Perpanjangan Waktu
tinggalkan komentar »
Di berbagai acara siaran langsung pertandingan sepak bola, kata injury time sering kita dengar. Sebagian orang, bahkan mungkin sebagian besar, mengartikan injury time sebagai perpanjangan waktu. Perpanjangan waktu dilakukan sebagai pengganti waktu yang “hilang” akibat tertundanya permainan berupa pelanggaran-pelanggaran atau peristiwa lain yang mengganggu pertandingan.
Kata injury time merupakan kata gabungan injury dan time, yang secara harfiah diartikan tambahan waktu sebuah permainan/pertandingan diberikan sebagai bentuk kompensasi atas pemain yang cedera atau gangguan tertentu selama pertandingan berlangsung. Untuk itulah, kata injury time tidak tepat diartikan dengan kata perpanjangan waktu melainkan kata tambahan waktu.
Frasa “perpanjangan waktu” merupakan gabungan kata: perpanjangan dan waktu. Kata “perpanjangan” berasal dari kata dasar panjang yang berarti “tidak pendek” atau “berjarak jauh” dan kata perpanjangan berarti ‘ perihal memperpanjang, sedangkan kata “waktu” berarti “keadaan tertentu”, “seluruh rangkaian saat ketika proses, atau “saat”. Dengan demikian, kata perpanjangan waktu berarti suatu keadaan tertentu yang dipanjangkan. Persoalannya, apakah waktu dapat dipanjangkan? Rasa-rasanya, tidak ada waktu yang bisa dipanjangkan.
Bagaimana dengan tambahan waktu? Frasa “tambahan waktu” terdiri atas kata tambahan yang berarti yang ditambahkan (dibubuhkan), imbuh, tokok, atau ekstra. Kalau tambahan waktu dapat diartikan suatu keadaan tertentu (waktu) yang ditambahkan.
Kata “perpanjangan waktu” juga merambah dunia politik. Sebuah koran, misalnya, menulis kalimat “Menurut KPUD perpanjangan waktu sosialisasi calon wali kota (kampanye) hanya tiga hari”. Kalimat itu dapat diartikan dengan “Menurut KPUD tambahan waktu sosialisasi calon wali kota hanya tiga hari”.
Bagaimana dengan kata waktu habis? Mungkinkah waktu itu bisa habis? Kalau itu terjadi, itu artinya dunia telah kiamat! Sebab, tidak ada lagi waktu untuk kita hidup di dunia ini. Perlu kiranya kita jadikan perhatian bahwa waktu tidak pernah habis. Waktu akan selalu ada. Yang mungkin hilang adalah kesempatan, peluang, atau keluasan. Setidaknya, agar kita tidak salah kaprah, kata waktu habis dapat digantikan dengan kata/istilah kesempatan habis, peluang habis, atau keluasan habis.
Selain itu, acap kita jumpai kata/istilah mencari waktu. Misalnya “Kita mencari waktu yang bagus, pernikahan ini sangat sakral”. Kata/istilah “mencari waktu” terlihat janggal dan salah kaprah. Kata/istilah waktu merupakan salah satu kata yang abstrak, pada umumnya kata/istilah yang abstrak tidak dapat digambarkan secara pasti dan kuantitatif. Karena waktu tidak pernah hilang, sembunyi, atau pergi. Artinya, kata waktu itu tidak perlu dicari, ditunggu atau diikat. Waktu bukanlah sebangsa binatang, yang bisa makan, lari atau mati. Seharusnya kalimat itu diganti: “Kita akan mencari kesempatan yang bagus, pernikahan ini sangat sakral”.
Begitu juga dengan kata/istilah main waktu dan waktu hilang, atau ngaret yang digunakan kurang tepat. Apakah ini sudah menjadi kebiasaan yang pada akhirnya akan menjadi budaya? Rasa-rasanya kita tak bisa enjoy aja! Persoalan kata, persoalan yang berkait dengan nilai rasa dan citra. Semakin halus bahasa, semakin tinggi peradabannya.
copy by http://kbplpengkajian.wordpress.com/2010/05/05/%E2%80%98injury-time%E2%80%99-bukan-perpanjangan-waktu/
Langganan:
Postingan (Atom)


